Sifat Pikiran

No Comments »

Singkat kata, pikiran adalah alat bantu kita dalam menjalani praktik kehidupan ini.
1.   Satu pertanyaan yang menarik dan layak kita ajukan kemudian adalah, apa yang kita harapkan dari bantuan pikiran itu? Saya jawab saja, tidak lain adalah kemajuan. Dengan kata lain, kita anggap saja seluruh kemajuan manusia saat ini adalah berkat bantuan pikiran.
2.   “Benarkah seluruh kemajuan manusia bersumberkan dari pikiran? Atau, mampukah pikiran manusia membikin kemajuan?”
3.   Tunggu dulu, “Apakah kemajuan itu?”
Kalau pendapatan Anda bulan lalu 1 juta rupiah, lalu berkat bantuan pikiran Anda, bulan ini menjadi 2 juta rupiah, apakah itu kita sebut kemajuan? Kalau ya, bagaimana jika bersamaan dengan itu kebutuhan Anda berlipat 3 kali?
4.   Kalau begitu, bagaimana kalau begini saja: kalau pendapatan Anda naik 2 kali lipat dan kebutuhan Anda tetap atau bahkan turun, itu baru kemajuan bukan?
5.   Jadi, “Apakah kemajuan itu?”
Kemajuan, dalam contoh kasus pendapatan itu adalah, berkurangnya jarak antara kemampuan (pendapatan) dengan kebutuhan bukan?. Ya, akan lebih baik kalau pendapatan Anda bergerak jauh lebih cepat dari kebutuhan Anda tentunya. Kalau kita tarik garis yang lebih umum, maka ke­majuan adalah berkurangnya jarak antara “yang seharusnya (kebutuhan)” dengan “apa adanya atau kenyataannya (pendapatan)”. Tentu, kalau bisa, “kenyataan” bergerak lebih cepat dari “yang seharusnya”.
…pikiran adalah alat bantu kita dalam menjalani praktik kehidupan ini .
Era global…persaingan bebas menjadi ciri khasnya. Kalau dalam persai­ngan kita menggunakan cara jiplakan dari “musuh” kita, mungkinkah kita dapat memenangkan persaingan? Jawabnya jelas, tidak bisa! Dus, yang harus kita laku­kan adalah mencipta bukan?
Kita sudah menjawab pertanyaan apa itu kemajuan. Sekarang, mampukah pikiran[1] manusia membikin kemajuan? Apakah Anda termasuk orang yang percaya bahwa pikiran mampu men­cip­takan kemajuan? Mari kita buktikan dengan jalan mengajukan persoalan yang up to date kepada pikiran berikut ini.
Era global, salah satu pengertiannya adalah era dimana batas geografis antar negara nya­ris tak relevan lagi. Persaingan bebas akan menjadi ciri khasnya. Kalau dalam persaingan kita menggunakan cara jiplakan dari “musuh” kita[2], mungkinkah kita dapat memenangkan persaingan? Jawabnya jelas, tidak bisa! Meskipun begitu, coba Anda perhatikan, tidakkah Anda sadar, bahwa sejak Anda bangun tidur sampai dengan mau tidur lagi, cara Baratlah yang Anda terapkan bukan? Oleh karena segala segi kehidupan kita meniru Barat, maka sekarang kita dipermainkan oleh Barat. Dus, yang harus kita lakukan adalah mencipta bukan?
Ya, mencipta atau berkreasi, itulah kata kuncinya. Kalau kita tarik lebih umum lagi, kita musti menjadi mandiri dalam pengertian yang seluas-luasnya, personal maupun institusional. Tentu bukan dalam pengertian penciptaan yang sama sekali baru, meskipun juga tidak menutup kemungkinan yang demikian. Ini perlu kerja-cerdas (kerja-cerdas!) dan keikhlasan kita. Karena penciptaan/kreasi tidak memerlukan biaya kecuali keikhlasan. Kita juga musti sabar, karena hasilnya mungkin baru bisa dinikmati oleh anak cucu kita.
            Kembali kepada pertanyaan sebelumnya, apakah pikiran manusia mampu mencipta­kan kemajuan? Mari kita lihat, benda macam apakah sebenarnya pikiran itu sehingga kita begitu bergantung kepadanya? Pikiran itu mempunyai beberapa sifat berikut ini.
PIKIRAN ITU MENGUMPULKAN
           
            Ketika seorang bayi sudah bisa mengucapkan satu-dua kata yang diajarkan kedua orangtuanya, kata yang paling mudah diucapkannya biasanya kata pa-pa atau ma-ma. Maka setiap kali dia melihat benda bergerak, dipanggilnya pa-pa atau ma-ma. Begitulah seorang bayi mengulang apa yang dia cerap dari luar. Contoh sederhana itu memberikan gambaran kerja pikiran yakni :
a.  Sebuah tindakan adalah ungkapan ulangan (dalam hal ini berbentuk kata-kata) dari ingatan/memori dalam pikiran
b.  Tindakan itu disimpan dalam pikiran yang bersumber dari pengalaman. Jelasnya adalah pengalaman yang berupa “ajaran” dari luar (kedua orangtua).
Seorang dewasa, bahkan seorang profesor sekalipun sebenarnya hanya bisa mengulang pengalamannya, baik dari mendengar, melihat maupun membaca. Jadi, berpikir berarti mengulang pengalaman yang lalu.
…ketika Anda berlogika, Anda tidak sedang berpikir, melain­kan meniru orang lain berpikir
… berpikir dalam pengertian konvensional mustahil dapat mencipta
            Gejala seperti digambarkan di atas sebenarnya berlaku pula pada orang dewasa sekalipun, setinggi apapun tingkat pendidikannya. Seorang dewasa, bahkan seorang profesor sekalipun sebenarnya hanya bisa mengulang pengalamannya, baik dari mendengar, melihat maupun membaca. Jadi, berpikir berarti mengulang pengalaman yang lalu.
Anda tentu mengenal istilah rasional dan logis. Itulah 2 jalan pikiran manusia. Ketahuilah, bahwa kemampuan kita ber-“rasio” dan berlogika pun, sesungguhnya hasil penumpukan memori itu juga. Jadi, ketika Anda berlogika, Anda tidak sedang berpikir, melainkan meniru orang lain berpikir. Anda menggunakan 2 jalan pikiran itu setelah Anda diberi tahu guru-guru Anda atau dari buku-buku. Selanjutnya, dua jalan pikiran itu menjadi penjara bagi pikiran itu sendiri. Pikiran Anda tidak bisa menjawab apa yang tidak pernah dialaminya.
            Analogi sempurna dari kemampuan pikiran yang hanya menumpuk memori itu adalah piranti komputer. Kalau komputer diisi memori program atau “diajari” bahwa 1 + 2 = 3, maka kalau kita tanya 2 + 2 itu berapa, pasti komputer akan menjawab: “Tidak tahu”. Atau malah menyalahkan kita, “Anda salah memasukkan data!”, katanya. Ya, komputer itu dungu. Dan manusia yang hanya bisa mengulang apa yang dialaminya, itu juga……….(maaf) dungu.
Untuk lebih jelasnya, mari kita ikuti dialog berikut ini:
Guru : "Badu, lihat pesemaian jeruk, dan siram supaya tumbuh dengan baik"
Badu : "Badu, lihat pesemaian jeruk, dan siram supaya tumbuh dengan baik".
Guru : ...... ???
            Jadi, berpikir dalam pengertian konvensional mustahil dapat mencipta.
PIKIRAN ITU BERGANTUNG
…karena pikiran tidak bisa “melihat”, maka ia tidak bisa mengetahui. Dan karena pikiran tidak bisa mengetahui, maka ia tidak akan mampu mencipta
            Pikiran tidak bisa mengumpulkan langsung pengalaman dari luar dirinya. Ini sudah jelas. Untuk mengumpulkan pengalaman, pikiran banyak bergantung terutama kepada mata dan telinga. Jadi pikiran itu sendiri adalah suatu piranti yang buta, tidak bisa melihat. Berdasarkan prinsip usul fiqih Al-Asy’ari, maka sesuatu yang tidak bisa melihat mustahil bisa mengetahui (berilmu), dan sesu­atu yang tidak bisa mengetahui mustahil mampu mencipta. Jadi, karena pikiran tidak bisa “melihat”, maka ia tidak bisa mengetahui. Dan karena pikiran tidak bisa mengetahui, maka ia tidak mampu mencipta.
            Sampai di sini Anda tentunya mulai mengerti, bahwa dalam hal penciptaan, pikiran tidak dapat diandalkan bukan?. Jelas?!
PIKIRAN ITU MENGIRA
            Katakan saja, saya meletakkan sebuah batu di atas meja. Sekarang, pandanglah batu itu beberapa saat, lalu pejamkan mata Anda. Masih adakah “gambaran” batu itu di benak Anda? Ya, tentu masih ada.
Masih dalam keadaan mata Anda terpejam, tanpa sepengetahuan Anda, batu itu saya geser letaknya. Sekarang katakan pada saya, bagaimana keadaan batu itu?
            Pikiran mustahil bisa mengetahui pergeseran letak batu itu. Paling ia hanya mengira-ngira berdasarkan “gambaran” yang masih ada di dalam memorinya. Jadi, berpikir itu pada hakikatnya mengira bahwa sesuatu itu ada, mengira bahwa sesuatu itu benar. Dengan kata lain, berpikir itu berarti berspekulasi.
…berpikir itu pada hakikatnya mengira bahwa sesuatu itu ada, mengira bahwa sesuatu itu benar. Dengan kata lain, berpikir itu berarti berspeku­lasi .
Barang yang kapasitasnya hanya berspekulasi, mungkin­kah dapat menciptakan? Bukankah kalau demikian, pikiran itulah problem kita?
            Barang yang kapasitasnya hanya berspekulasi mungkin­kah dapat menciptakan? Bukankah kalau demikian, pikiran itulah problem kita?
             Disamping ketiga sifat pikiran tersebut, ada satu hal yang menjadi kelemahan pikiran, yaitu PIKIRAN TIDAK MAMPU MENCERAP FAKTA. Pikiran manusia mustahil mampu mencerap fakta secara keseluruhan sekaligus. Dalam dunia akademik, hal ini dibuktikan oleh dipilah-pilahnya ilmu menjadi beberapa disiplin ilmu. Dalam hal ini sebenarnya saya tidak begitu yakin, apakah hal ini disebabkan semata oleh kapasitas pikiran yang terbatas, ataukah karena sifat pikiran yang cenderung memilah (analitis) dan tidak mampu meramu (sintesis). Ya, kita ini (dengan berpikir konvensional) paling pandai menganalisis, tetapi tidak pandai mensintesis. Kita paling peduli dengan masalah-masalah rinci, tetapi tidak suka yang substansial. Oleh karena itulah yang paling menonjol pada setiap diskusi adalah penemuan kambing hitam. Tentu saja begitu, karena kalau kita berbicara substansial, maka kambing hitamnya adalah kita semua bukan?.
            Kita akan bertemu lagi pada lain bagian untuk sifat pikiran yang tidak mampu mencerap fakta itu.


[1] Untuk sementara Anda harus mengartikan pikiran sebagaimana pengertian Anda selama ini, yaitu mengumpukan hafalan
[2] Sejauh ini saya merasakan adanya keanehan, mengapa kita tidak pernah menyinggung “musuh” saingan kita nanti. Bukankah nanti basis balit adalah bisnis?. Mungkin karena selama ini kita merasa paling hebat tanpa saingan dalam soal teknologi. Meskipun tentu saja dalam pengertian mempersoalkan teknologi, dan bukan menghasilkan teknologi.
Read More »

Pengantar

No Comments »

Saya tertawa sendiri ketika menuliskan identitas saya dalam tulisan ini. Sebenarnyalah saya hanya seorang pemulung yang sedang memunguti apa yang tercecer dan Anda tinggalkan. Begitulah, saya pernah memposisikan diri sebagai seorang kakek yang menghibur cucunya yang sedang resah. Di waktu lain saya menjadi (semacam) kiyai, menjadi kawan, bahkan juga menjadi lawan.
Mengapa begitu? Karena saya ingin mengisi kekosongan di lingkungan kita. Karena tak ada orang yang mengisi posisi itu. Karena kita sibuk berebut tulang. Ya, sekarang saya memposisikan diri menjadi pemerhati dan teoritikus character building. Sekali lagi, ini saya lakukan karena tak ada orang yang mengisi posisi itu. Juga – sekali lagi – karena kita sibuk berebut tulang.
Dengan ukuran apa pun, sebenarnya tak ada kapasitas saya untuk menjelaskan bagaimana memikirkan pikiran, menguraikan mengenai pikiran manusia, perihal yang pelik ini. Saya katakan pelik, karena saya yakin sangat sedikit di lingkungan kita, bahkan mungkin tak ada orang yang mencoba meluangkan waktu untuk merenungkan dirinya sendiri, di antaranya memikirkan pikirannya sendiri. Kita lebih sibuk dengan faktor-faktor eksternal. Oleh karena itu saya tidak yakin, mampukah saya menjelaskan perihal pikiran itu dengan benar. Atau  dapatkah Anda menangkap maksud saya itu nanti. Jangan-jangan saya membuat masalah yang sudah jelas, justru menjadi tidak jelas. Maka saya akan merasa sudah cukup senang sekiranya paper ini menjadi bahan renungan kita bersama pada pasca seminar. Sebab tidak mungkin kita berharap terlalu banyak dari forum seminar yang singkat ini, sampai diperoleh pemahaman yang menyeluruh tentang pikiran.
Beberapa hal perlu saya kemukakan sebelum Anda menyimak paper ini:
  1.   Tulisan ini tidak tersusun secara terstruktur. Bukan apa-apa, karena saya tidak mampu membuat tulisan yang terstruktur. Tetapi saya justru melihat hikmah dari ketidak-terstrukturan tulisan ini, yaitu tak ada jalan bagi Anda untuk menyalurkan “penyakit” manghafal yang sangat saya benci itu
  2.    Gaya bahasa yang saya gunakan adalah gaya bahasa pasaran, bahasanya orang awam. Hanya dengan modal ketulusan dan keseriusan saja yang membuat tulisan ini tersusun, meskipun tidak mempunyai kadar ilmiah seujung kuku pun
  3.    Anda tidak akan bisa mengidentifikasi, apakah tulisan ini tentang pengetahuan umum ataukah tentang agama. Bagi saya, ilmu umum (U) dan ilmu agama (A) itu satu hal, yaitu ilmu Addien (D). Diungkapkan dengan persamaan kimia menjadi = U + A <==> D. Perhatikan tanda panah bolak-balik)
  4.    Tulisan ini tidak dilengkapi dengan daftar pustaka, bukan karena isinya sepenuhnya hasil pemikiran saya, melainkan karena saya ingin memperkaya pustaka, dan bukan pustaka yang memperkaya saya
  5.    Beberapa hal pokok yang saya anggap penting, memang sengaja saya ulang-ulang pada berbagai bagian tulisan ini. Hal itu saya lakukan semata-mata sebagai upaya saya untuk menjelaskan sesuatu dengan berbagai cara, agar Anda tidak salah mengerti. Semoha saja tidak membosankan.
Bagi Anda yang tidak punya waktu banyak membaca tulisan ini sampai tuntas, baiklah saya sampaikan pesan sentral dari tulisan ini, yaitu: kembalilah kepada agama Anda secara menyeluruh (kaffah). Tidak peduli apakah agama Anda itu atheisme, materialisme, rasionalisme, atau apa pun juga. Tidak penting apakah tuhan Anda itu nafsu, syetan gundul, demit gentayangan, iblis, atau tuhan bikinan pikiran Anda sendiri, ataukah Tuhan yang telah menurunkan Al-Qur’an kepada Muhammad SAW. Selagi Anda kaffah, Anda akan memperoleh apa yang Anda idamkan. Maha Suci Dia, betapa Dia tidak pilih kasih [1], bahkan orang yang durhaka sekali pun akan dikabulkan keinginannya, karena “Agama-Ku ini untuk seluruh umat manusia”, firman-Nya. Kalau tidak demikian, kalau kita tidak kaffah, selamanya kita akan tetap pandai tetapi bodoh sekaligus, sholat tetapi korup, pekerja dan pemalas sekaligus, murah senyum tetapi jahat, sedikit karya banyak tuntutan. Begitu seterusnya!.
Pada galibnya, acara seminar seperti ini, orang diajak untuk memikirkan pemikiran orang lain. Tetapi sekarang saya datang mengajak Anda untuk memikirkan pikiran itu sendiri. Selamat berpikir!
–––––––––


[1] Dia Yang Maha Kasih tidak pernah pilih kasih seperti kita!
Read More »

Pengantar - Edisi Revisi

No Comments »

1. Pada bagian depan saya tambahkan sebuah ringkasan, yang saya beri judul tersendiri, yaitu: Kronika dalam Memikirkan Pikiran. Sebenarnya ringkasan ini sudah pernah saya terbitkan tersendiri pada pasca seminar MP dalam bentuk selebaran dengan nomor terbitan 4. Namun pada naskah ini, “kronika” juga sudah mengalami revisi seperlunya
  1. 2. Pada beberapa bagian saya coba tambahkan penjelasan lebih lanjut untuk tema-tema yang saya anggap masih kabur. Perubahan atau tambahan ini, bahkan saya lakukan pula pada catatan kaki
  2. 3. Beberapa teman mengkritik saya mengenai penggunaan kata-kata yang terlalu kasar. Oleh karena itu, pada edisi revisi ini dengan sangat terpaksa (sangat terpaksa!) saya perhalus. Tetapi saya tidak bersedia merevisi kalimat saya yang pada umumnya “ber-ANDA-ANDA” dengan Anda. Siapa pun yang membaca naskah ini, dia berhak berbeda pandangan, bahkan menentang pandangan saya dalam tulisan ini. Dengan cara itu saya berharap pembaca tetap sadar tentang adanya dua pihak, yaitu saya dan pembaca. Karena saya hanyalah menendang bola, mengajak pembaca untuk berpikir. Selebihnya terserah Anda, apakah bola itu akan dibuang, diolah, atau bukan apa-apa
  3. 4. Pada setiap bagian yang saya anggap penting, saya sisipkan sebuah ringkasan (caption) mengenai bagian tersebut. Ini untuk menyediakan kesempatan bagi Anda yang tidak mempunyai banyak waktu membaca seluruh isi naskah
  4. 5. Pada bagian belakang saya tambahkan pula dialog yang terjadi saat naskah MP ini diseminarkan. Harap Anda ketahui, bahwa catatan itu sebenarnya hanya berdasarkan daya-ingat saya saja, karena saya tidak menerima atau tidak mempunyai (semacam) notulen atau prosiding hasil seminar. Dengan menyatakan ini saya ingin menunjukkan, inilah salah satu kelalaian kita. Setiap kali ada rapat, seminar dan semacamnya sangat jarang peserta acara itu menerima notulen/prosidingnya.
Selebihnya saya hanya bisa berharap, semoga naskah ini bermanfaat.

Solok, Agustus 2003
Penulis



[1] Makalah disampaikan pada acara Seminar Sabtuan, 26 April 2003 di Balai Penelitian Tanaman Buah
Read More »

Ringkasan

No Comments »

BATASAN
Dalam naskah ini, saya hanya mengaju­kan model (meminjam istilah dalam riset) yang menurut saya Islami. Tentu yang benar adalah tetap Islam itu sendiri, sedangkan “keislaman pemikiran” saya patut selalu dipertanya­kan kembali, terutama oleh diri saya sendiri.
MENCARI JEJAK
Marilah kita lihat, apa saja yang kita lakukan dalam kese­harian. Tentu banyak hal, tetapi yang penting di antaranya ada­lah: merasa (qalbu), berpikir, bekerja, bergaul, dan berdialog/ber­bicara. Secara ringkas aktivitas-aktivitas itu dapat digambar­kan sebagai berikut:
Saya mengambil jalan pikiran sebagai berikut:

Setiap aktivitas/perilaku kita adalah ekspresi dari pikiran, dan pikiran adalah ekspresi dari qalbu
·Jadi, bagaimana kita bekerja, adalah gambaran bagaimana pi­kiran kita. Selanjutnya, bagaimana pikiran kita adalah gam­ba­ran bagaimana qalbu kita
·Oleh karena aktivitas-aktivitas itu berasal dari sumber yang sama (qal­bu), maka antar aktivitas itu sen­diri dapat saling menjadi tolok ukur. Mi­salnya, bagaimana kita bergaul dengan orang lain, dapat menggambarkan bagaimana kinerja kita dalam bekerja. Begitu seterusnya
·Ditarik lebih jauh, bagaimana kita memandang agama, begitu pulalah pola pikir dan ekspresi perilaku kita. Jadi, beragama adalah satu “hal” dengan bekerja, bergaul, dst. Dengan kata lain, kinerja Anda identik dengan agama yang Anda anut. Oleh karena itu saya mengatakan: “Kembalilah kepada agama Anda dengan kaffah (menyeluruh), apa pun agama Anda, dan yang mana pun Tuhan Anda. Mungkin ini agak membingungkan. Contoh berikut barangkali dapat memperjelas maksud saya.
KINERJA ANDA IDENTIK DENGAN AGAMA ANDA
Anda tentu mengenal Karl Marx bukan? Terlepas apakah kita setuju atau tidak, dialah si pen­cetus (kreator) gagasan sis­tem ekonomi komunisme. Orang macam manakah dia itu sebe­narnya, sehingga gagasannya itu ditelaah oleh orang seluruh dtnia, baik oleh kawan maupun lawan sampai detik ini?.
Dia adalah orang yang menolak kebenaran agama apa pun. Dia bilang: “Agama adalah opium masyarakat”. Lalu, apa­kah dia tidak beragama? Tidak demikian. Agamanya adalah ko­munis­me, tuhannya adalah rasio, buminya tempat dia mewujud­kan kekhalifahannya adalah humanisme (kaum buruh). Dia ada­lah seorang yang sangat “khusuk” dan sangat khikmat dalam beriba­dah kepada tuhannya. Sebegitu khusuknya, sampai keluarganya menjadi terlantar [1].
Dari cintanya yang menyeluruh (kaffah) terhadap agama­nya itulah, kemudian lahir kreasinya berupa teori ekonomi komunis itu. Per­hatikan, janji Tuhan telah sungguh-sungguh mewujud bukan? Maksusnya, karena dia “meminta” dunia, mentuhankan materi, maka diberilah ia dengan materi. Tentu kita yakin, wujud kreasi dari orang semacam Karl Marx akan berbeda dengan orang yang beragama beneran.
Ingin saya tekankan, bahwa hanya dengan cinta akan ada ke­tulusan. Dan hanya dengan ketulusan akan ada kreasi. Ya, karena kreasi itu tidak membutuhkan biaya. Kreasi hanya membutuhkan cinta dan ketulusan (KREASI ITU TIDAK MEMBUTUHKAN BIAYA. KREASI HANYA MEMBU­TUHKAN CINTA DAN KETULUSAN)!. Kalau Anda be­kerja pe­nuh pamrih, maka kerja Anda hanya akan menumpuk-numpuk barang bekas/palsu, lalu Anda jual dengan harga barang baru/asli.
Lalu, bagaimana dengan kita?
Menurut pandangan saya, kita ini serba tanggung. Saya kira ini sudah cukup jelas seperti yang saya uraikan dalam tu­lisan-tulisan yang lalu. Tentu saja kemudian Tuhan lebih suka kepada orang yang konsekuen dan konsisten. Dengan alasan yang sama, itulah sebabnya mengapa Barat itu maju!. Karena mereka khusuk, sedangkan kita separuh material/rasionalis se­paruh sisanya agamis (Islam?). Dengan agamanya itu seolah mereka (orang Barat) berdoa: “Tuhanku, aku minta dunia”, lalu diberilah dunia kepada orang Barat. “Siapa yang mengharapkan dunia, ia akan memperolehnya. Siapa yang mengharapkan akhirat, ia akan memperolehnya…..”, begitu janji Tuhan dalam Al-Qur’an.
KREATIVITAS
Yang saya maksud kreativitas adalah kemampuan sese­orang untuk menciptakan sesuatu yang belum diciptakan orang lain sebelumnya. Kadar penciptaannya itu sendiri sangat banyak tingkat­an­nya. Contoh kreasi di antara lain:
·Terciptanya teknologi yang lebih efisien
·Terciptanya suasana kerja yang riang dan produktif
·Terciptanya solusi dari suatu masalah, dst.
Tentu, keseluruhannya itu masih dalam bingkai manfaat dan moralitas. Dengan kata lain, kalau kreasi itu tidak bermanfaat atau melang­gar norma hukum, bukan lagi kreasi namanya. Se­kurangnya, bu­kan kreasi seperti yang saya maksud dalam paper ini.
LEBIH JAUH TENTANG CINTA DAN KREATIVITAS
Bagaimana cinta dapat membuka tabir petunjuk bagi lahirnya kreativitas? Barangkali, kita dapat mengambil hikmah dari jalinan cinta[2] antara dua sejoli.
·Seseorang yang jaruh cinta, salah satu gejalanya adalah: tiba-tiba saja dia menjadi puitis bak seorang pujangga. Kata-kata yang sebelumnya tak terbayangkan, seketika itu me­ngalir begitu saja tanpa diundang. Ya, tiba-tiba dia menjadi kreatif. Dalam hal ini adalah kreatif dalam menyusun rayuan
·Kekasih yang Anda cintai, tanpa Anda minta, akan membuka seluruh “ra­hasianya” yang paling tersembunyi sekali pun. Begitulah kira-kira “rahasia” yang berupa kreasi itu muncul dari objek yang Anda “cintai”, karena dengan cinta nyaris tak ada lagi jarak ruang dan waktu antara Anda dengan kekasih Anda.
Selanjutnya saya hanya bisa mengajak, mari kita cintai manusia yang manapun, mari kita cintai pekerjaan kita, kita cintai hidup, dst. Tentu cinta itu kita bangun di atas cinta kepada-Nya. Lalu, kita lihat apa yang terjadi!
ILMU
Ilmu adalah salah satu perbendaharaan rahmat dari Yang Maha Gaib, se­hingga ilmu itu juga gaib. Oleh karena itu ia tidak bisa dikejar di manapun di dunia ini. Tak ada kepastian, bahwa jika Anda ber­sekolah, lalu Anda menjadi berilmu. Seandainya daya ingat Anda kuat, maka Anda hanya berpengetahuan. Tetapi, dalam arti ini, komputer jauh lebih hebat dari sekadar kemampuan menghafal manusia.
Ingin saya tekankan, bahwa buku itu residunya ilmu, dan hafalan itu residunya pikiran.
·Setiap Rahmat-Nya, termasuk ilmu, selalu tak terhitung, selalu tersembunyi dari jangkauan manusia. Hal ini agar manusia ti­dak bisa mempere­butkannya. Hanya orang-orang bodoh dan menyimpan itikad jahat sajalah yang (misalnya) memperebutkan kesem­patan belajar itu. Karena dia tidak mempunyai ilmu agar dihampiri (dihampiri) oleh ilmu. Ya, ilmulah yang mene­mui manusia, dan bukan sebaliknya. Yang Maha Berilmulah yang meletakkan ilmu itu di dada Anda, dan bukan daya upaya Anda untuk menemukannya.
·Seperti Rahmat-Nya yang tak terhitung, ilmu itu juga tak ter­hitung jenis, macam dan ragamnya, dan asal-muasal dari mana Anda dikehendaki-Nya memperoleh ilmu itu
·Maka tak ada alasan untuk berkecil hati bagi Anda yang belum memperoleh kesempatan tugas belajar. Tinggal sekarang Anda bertanya kepada diri sendiri, “Mengapa saya menginginkan ilmu?” Mari saya tunjukkan jawabannya yang benar, yaitu: “Untuk meng-ALAMI (experience) Kekuasaan-Nya, dan bukan sekadar mengalaminya (experiment), sampai akhirnya kita (seolah) melihat dengan Penglihatan-Nya, berbicara dengan Lisan-Nya, berjalan dengan Kaki-Nya, bekerja dengan Tangan-Nya”
·Karena kita mempersempit makna Rahmat-Nya, bahwa ilmu itu ada di buku-buku, sekolah-sekolah, dalam hafalan, maka sem­pit pulalah pikiran kita. Makin banyak kita membaca, makin tinggi title kita, makin piciklah pikiran kita. Lalu, pikiran men­jadi beku, dan membatu. Apalah yang dapat kita harapkan dari sebongkah batu?!
Pemikir yang baik secara garis besar ada dua macam:
a.   Bersesuaian[3] dengan “gerakan” di luar. Jelasnya, cobalah Anda mem­bayangkan sesuatu yang akan terjadi, misalnya suatu tema penelitian. Lalu ikutilah perkembangan tema-tema penelitian, kalau mungkin di dunia internasional[4]. Kalau ternyata ramalan Anda itu benar, maka Anda adalah pemikir yang baik. Selamat!
b.   Menciptakan “gerakan” di luar. Ini adalah kreasi tingkat ting­gi dan sangat jarang terjadi. Contohnya adalah pada kasus kreasi Karl Marx di atas.
Sebaliknya, pemikir yang buruk, tentu saja adalah mereka yang pikirannya hanya membeo, menjiplak, menyesuaikan diri dengan “gerakan” di luar dirinya, atau sama sekali didekte oleh faktor eksternal itu. Dalam lingkungan kerja, suasana yang mendorong orang menjadi pemikir yang buruk adalah dalam lingkungan jabatan structural. Biasanya para pejabat itu diperintah untuk sepenuhnya menyesuaikan diri dengan instruksi atau peraturan. Bagi kita, terutama para pejabat itu, menyesuaikan diri itu tampak normal, tetapi mereka lalu lupa, bahwa:

  • Mereka adalah manusia yang dibekali dengan potensi masing-masing yang wajib dikembangkannya untuk kemaslahatan, tanpa harus diartikan melanggar peraturan dan kepatutan
  • Peraturan, bagaimana pun, pasti mengandung kelemahan yang me­lekat pada pembuatnya, yaitu manusia itu juga. Oleh karena itu, pada tahap pelaksanaan peraturan itu masih diperlukan improvisasi tertentu.
PENUTUP
Keseluruhan pembicaraan kita pada tulisan ini sebe­nar­nya pembicaraan tentang cinta, tentang Cinta-Nya ke­pada makhluk-Nya, dan bagaimana kita menjadi khalifah-Nya sebaik-baiknya, semirip-miripnya dengan Dia. Ini adalah soal bagai­mana kita menjadi manusia biasa.
Marilah kita tumbuhkan cinta kepada manusia seluruh­nya, kepada pekerjaan, kepada air mata, burung yang berkicau, gunung-gunung, mereka yang terbuang, mereka yang berkuasa, maling yang digebuki, dst. Karena Tuhan juga begitu kok! Me­ngapa kita tidak?! Cobalah Anda perhatikan semua itu dengan jiwa polos, tanpa meng­ha­kimi, tanpa memberi cap. Setelah itu, sekarang jelaskan kepada saya, adakah Anda menemukan cinta di sana, di dada Anda? Tentu Anda tidak akan menemukan ke­terangan semacam ini di buku mana pun di dunia. Karena se­mua itu sebenarnya ada di dalam lembar-lembar qalbu Anda yang selama ini diabaikan, tetapi justru terus-menerus Anda suapi dengan kepuasan nafsu.
Mari kita kembangkan berpikir dengan kehadiran Nama-Nya di qalbu. Karena Dia Yang Maha Cinta, Dia pula yang Maha Pen­cipta. Maka Insya Allah, pikiran kita akan merefleksikan cinta dan penciptaan, dan bukan kebencian dan penjiplakan”.
Wallahu’alam bissawab                          
 SH020503


[1] Konon, 2 orang putranya meninggal karena sakit dan dia tidak mampu membayar ongkos dokter. Tentu saya tidak mengajak Anda untuk mentelantarkan keluarga. Saya hanya ingin menunjukkan begitu khusuknya Marx dalam “beribadah” kepada tuhannya.
[2] Anda yang belum pernah mengalami pacaran, contoh ini tidak berguna
[3]  Bukan disesuaikan
[4] Anda bisa mengikutinya lewat internet
Read More »

aaa

No Comments »

aaasfas
Read More »